Weekly Strategy

Weekly Strategy

Monday , 16 Mar 2020 10:15

Reversal vs Covid-19 

Untuk meredam dampak dari virus corona (Covid-19), pemerintah saat ini tengah memfinalisasi paket kebijakan stimulus jilid kedua setelah sebelumnya menerbitkan stimulus jilid pertama yang bertujuan untuk menjaga daya beli masyarakat, diantaranya peluncuran kartu pekerja untuk dua juta penerima manfaat, pemberian bantuan sosial bagi 50 ribu keluarga penerima manfaat, insentif bagi agen perjalanan termasuk pemberian diskon pesawat terbang agar sektor pariwisata tetap kuat. Paket
kebijakan stimulus jilid kedua terdiri dari insentif fiskal dan non fiskal. Paket kebijakan stimulus fiskal diantaranya: a) Penanggungan pembayaran Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21 yang berisikan pajak atas penghasilan berupa gaji, upah, honorarium, tunjangan, dan pembayaran lain terkait dengan pekerjaan atau jabatan, jasa, dan kegiatan yang dilakukan orang pribadi dalam negeri. b) Penanggungan PPh Pasal 22 yang berisikan Pajak Penghasilan Badan atas kegiatan impor barang
konsumsi yang dipungut dari wajib pajak yang melakukan impor atau dari pembeli atas penjualan barang mewah. c) Penanggungan PPh Pasal 25 selama enam bulan yang berisikan pungutan pajak kepada Wajib Pajak Orang Pribadi maupun Badan yang memiliki kegiatan usaha dan diwajibkan membayar angsuran PPh setiap bulan. Sedangkan paket kebijakan stimulus non fiskal tujuannya untuk mempermudah impor bagi importir bereputasi baik terutama yang termasuk dalam daftar Authorized Economic Operator (AEO) dan Mitra Utama Ditjen Bea dan Cukai, melalui penghapusan 749 kode HS bagi barang larangan dan pembatasan di sektor tertentu. Selain itu pemerintah juga tengah mempersiapkan satu stimulus lagi untuk menggerakkan UMKM sebagai langkah antisipasi untuk tetap mempertahankan daya beli masyarakat. Guna memastikan masyarakat membeli produk UKM dan memastikan suplai produk UKM ke market tetap terjaga, dimana salah satunya melalui penyelenggaraan pameran seperti indocraft 2020. Pemerintah juga tengah mendorong upaya untuk memperkuat kerja sama ASEAN untuk meringankan dampak ekonomi dan sosial bagi masyarakat ASEAN. Menjalarnya Covid-19 juga membuat Bank Indonesia (BI) menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia di tahun 2020 menjadi sekitar 2.7% – 2.8% dan pertumbuhan ekonomi Indonesia dikisaran 5.1%. Menurut BI, pertumbuhan ekonomi dunia akan lebih rendah karena adanya gangguan global supply chain dan distribusi di negara maju. Adapun proyeksi revisi laju pertumbuhan ekonomi Indonesia berasal dari perkiraan pertumbuhan sebesar 4.9% pada kuartal pertama, 0.5% pada kuartal kedua, 5.1% pada kuartal ketiga, dan 5.2% pada kuartal keempat 2020. Sementara, inflasi diperkirakan masih dapat terjaga sesuai target awal sebesar 3% +/- 1% dan defisit transaksi berjalan (CAD) sebesar 2.5% - 3% dari PDB. Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan juga diperkirakan masih dapat mencapai kisaran target 8% sampai 10% di tahun 2020, sedangkan di tahun 2021 dengan adanya stimulus baru dapat meningkat menjadi 9% sampai 12%.
 
Secara keseluruhan dalam sepekan terakhir IHSG melemah sebesar 10.75% atau 590.97 point, ditutup di level 4,907.57. Akumulasi minat jual asing dalam sepekan terakhir tercatatkan mewarnai pergerakan IHSG sebesar Rp.1.3 triliun diantaranya pada saham BBCA, BBRI, BBNI, BMRI, BSIM, ROTI, ASII, UNVR, LINK, TLKM. Dan dalam dua pekan sampai dengan empat pekan perdagangan terakhir juga tercatatkan akumulasi minat jual asing masing masing sebesar Rp.3.06 triliun, Rp.4.43
triliun, dan Rp.5.89 triliun. Dalam sepekan terakhir nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tercatatkan melemah dari Rp.14.267 menjadi Rp.14.815. Melemahnya IHSG dalam sepekan terakhir berhasil menguji target koreksi dikisaran level 5,182.71 – 5,170. Walaupun saat ini valuasi IHSG relatif murah serta masih terus berada di area jenuh jual (oversold) dengan siklus harian yang terus berada di bawah -1 standard deviasi, namun terus melebarnya isu Covid-19 membuat IHSG sulit untuk
membentuk pola reversal. Dalam sepekan kedepan pergerakan IHSG diperkirakan masih akan berfluktuatif dan berpeluang untuk membentuk konsolidasi baru. Beberapa saham di LQ45 yang saat ini secara histori mendekati PE ratio terendah diantaranya ADRO, AKRA, ANTM, ASII, BBNI, BBTN, BMRI, BSDE, CTRA, EXCL, GGRM, HMSP, INCO, INDF, INTP, ITMG, JPFA, JSMR, KLBF, LPPF, MEDC, MNCN, PGAS, PTBA, PTPP, PWON, SCMA, TLKM, UNTR, UNVR, WIKA, dan WSKT. Berita ekonomi domestik di pekan ini diantaranya neraca perdagangan Februari (ekspor & impor), penjualan sepeda motor Januari dan Februari, serta kebijakan tingkat bunga BI.