Weekly Strategy

Weekly Strategy

Monday , 17 Feb 2020 09:39

Ruang Koreksi 5,812.83 - 5,696 

1) Semenjak tahun 2010 hingga 2019 penerimaan pajak selalu meleset dari target. Tercatatkan realisasi tahun 2019 hanya sebesar Rp.1.33 triliun, sekitar 84.4% dari target yang sebesar Rp.1.58 triliun. Beberapa ekonom memprediksi penerimaan pajak di tahun 2020 juga tidak akan mencapai target karena minimnya rencana baru intensifikasi dan ekstensifikasi. Walaupun pemerintah telah merumuskan empat strategi yang dituangkan dalam APBN 2020, diantaranya: i) Meningkatkan kepatuhan wajib pajak. ii) Pajak Penghasilan (PPh) dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) menjadi instrumen yang mendukung iklim investasi dan daya saing. iii) Kualitas pelayanan, penyuluhan, dan pengawasan melalui penguatan sistem IT dan administrasi perpajakan. iv) Implementasi keterbukaan informasi perpajakan (AEoI). Namun keempat strategi tersebut di tahun mendatang dinilai belum mampu untuk meningkatkan rasio pajak di tengah situasi ekonomi yang kurang menguntungkan.
Pemerintah juga belum memiliki data yang tersinergi satu sama lain yang menyebabkan validasi menjadi sulit. 2) Untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian global akibat dampak virus corona, pemerintah melakukan strategi dengan cara mendorong konsumsi belanja Negara dan rumah tangga yang selama ini memiliki proporsi terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pemerintah akan mengambil langkah antisipatif dan responsif terutama untuk menjaga
daya beli masyarakat dan mendorong aktivitas produktif. Adapun realisasi belanja negara yang didorong meliputi belanja kementerian dan lembaga, terutama belanja bantuan sosial seperti PKH, belanja sektor kesehatan, belanja non-operasional, serta belanja yang bersifat padat karya untuk kegiatan produktif dimana dapat menyerap banyak tenaga kerja seperti belanja infrastruktur di pusat dan daerah. Di samping itu, pemerintah akan mempercepat program Kredit Usaha Rakyat (KUR)
termasuk perluasan sasaran penerimanya. Sektor pariwisata juga akan didorong melalui berbagai program pendukung seperti percepatan pembangunan lima destinasi pariwisata super prioritas diantaranya Danau Toba, Borobudur, Likupang, Labuan Bajo, dan Mandalika. Kementerian Keuangan menyatakan hingga 10 Februari 2020, belanja Kementerian dan Lembaga mengalami kenaikan dibandingkan periode sebelumnya. Salah satu belanja yang mengalami kenaikan adalah belanja untuk dana desa, dimana anggaran dana desa yang sudah dicairkan lebih dari Rp.586 miliar, lebih besar dibandingkan pencapaian periode sebelumnya (Februari 2019) yang hanya Rp.317 miliar. Selain dana desa, belanja negara untuk program keluarga harapan (PKH) juga telah disalurkan sebesar Rp.7 triliun. Angka tersebut dari total PAGU tahun 2020 sebesar Rp 29 triliun. Sedangkan belanja kementerian lembaga yang telah dicairkan sebesar Rp.30.9 triliun, terdiri dari belanja barang Rp.3.3 triliun, belanja modal Rp.1.9 triliun, belanja bantuan sosial Rp.13.2 triliun, dan belanja pegawai Rp.12.5 triliun. Sedangkan untuk mendorong konsumsi rumah tangga, pemerintah mempertimbangkan untuk mengadakan festival belanja online.
Secara keseluruhan dalam sepekan terakhir IHSG melemah sebesar 2.21% atau 132.66 point, ditutup di level 5,866.95. Namun akumulasi minat beli asing dalam sepekan terakhir tercatatkan mewarnai pergerakan IHSG walaupun hanya sebesar Rp.720.22 miliar diantaranya pada saham BMRI, MYOR, BBRI, TLKM, BBNI, PGAS, UNTR, JSMR, PWON, LPPF. Dan dalam dua pekan perdagangan terakhir juga masih tercatatkan akumulasi minat beli asing sebesar Rp.863.92 miliar. Sedangkan dalam tiga pekan dan empat pekan terakhir tercatatkan minat jual asing masing masing sebesar Rp.1.49 triliun dan Rp.1.82 triliun. Dalam sepekan terakhir nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tercatatkan melemah dari Rp.13.647 menjadi Rp.13.707. Dalam dua pekan perdagangan terakhir IHSG membentuk pola jangka pendek baru dimana menunjukkan masih adanya ruang koreksi dikisaran level 5,812.83 – 5,697.39. Pola jangka pendek seiring dengan pola jangka menengah yang menunjukkan adanya ruang koreksi dikisaran level 5,696. Dengan kondisi IHSG yang saat ini mendekati area jenuh jual (oversold), maka dalam sepekan kedepan terdapat peluang bagi IHSG untuk membentuk pola reversal yang kemudian dilanjutkan dengan technical rebound. Beberapa saham di LQ45 yang saat ini
secara histori mendekati PE ratio terendah diantaranya ADRO, AKRA, ASII, BBNI, BSDE, CTRA, GGRM, HMSP, INDF, ITMG, JPFA, JSMR, KLBF, LPPF, MNCN, PGAS, PTBA, PTPP, PWON, SCMA, TLKM, UNTR, UNVR, WIKA, dan WSKT. Berita ekonomi domestik diantaranya neraca perdagangan Januari, indeks harga propery, kebijakan tingkat bunga, dan penjualan mobil Januari.