Weekly Strategy

Weekly Strategy

Monday , 18 Nov 2019 09:05

Target Koreksi Selanjutnya 6,033.33 – 6,001.94 – 5,962 

1) Harapan pemerintah untuk mencapai pertumbuhan ekonomi di 2019 sebesar 5.08% sangat berat dikarenakan sepanjang Januari – September 2019 baru mencapai 5.04%. Sehingga untuk mencapai target di angka 5.08% sampai akhir tahun, pada Q4 2019 ini pemerintah harus mencapai pertumbuhan ekonomi 5.18%. Menurut Kementerian Keuangan (Kemenkeu), dalam dua bulan terakhir pemerintah akan mendorong pengeluaran dan belanja negara, dimana pada Q4 2019 akan berkontribusi sebesar 25% – 30% dari target dengan optimalisasi belanja Kementerian/Lembaga dan belanja transfer ke daerah dan dana desa (TKDD). Adapun sampai dengan akhir September 2019 belanja negara mencapai Rp. 1,388.3 triliun (56.4% dari pagu APBN 2019 sebesar Rp. 2,461.11 triliun) dengan realisasi belanja yang masih didominasi oleh belanja yang bersifat non produktif seperti belanja rutin dan belanja barang. Sedangakan di tahun 2020 di targetkan 5.3% dengan asumsi pertumbuhan ekonomi global akan lebih baik di tahun depan. Untuk mencapai angka tersebut, prioritas pembangunan diarahkan untuk peningkatan sumber daya manusia (SDM) dan daya saing. Sejumlah program untuk mencapai tujuan diantaranya: Bantuan Operasional Sekolah (BOS), Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah, Kartu Pra Kerja, Kartu Sembako, Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), Program Keluagra Harapan (PKH) dan subsidi untuk mencapai tujuan peningkatan SDM dan perlindungan sosial. Sedangkan program yang disiapkan untuk tujuan pemerataan pembangunan ke daerah diantaranya: Dana Alokasi Khusus (DAK), Dana Insentif Daerah (DID), Dana Infrastruktur, dan Dana Desa. Di tahun 2020 tingkat kemiskinan di targetkan sebesar 8.5% – 9%, tingkat ketimpangan sebesar 0.375% – 0.38%, dan tingkat pengangguran sekitar 4.8% – 5%. 2) Hasil research yang dilakukan Bank Indonesia (BI) menyatakan bahwa Indonesia dapat mencapai pertumbuhan ekonomi 6.1% – 6.2% dalam lima tahun mendatang dengan asumsi adanya bauran kebijakan dari pemerintah untuk semua kepentingan. Bauran kebijakan untuk jangka pendek dengan mengandalkan kebijakan suku bunga dan kebijakan fiskal. Sedangkan bauran kebijakan untuk jangka menengah panjang dengan melakukan perbaikan dan penguatan di beberapa bidang seperti: sumber daya manusia, teknologi dan infrastruktur. Untuk mendorong momentum pertumbuhan ekonomi adalah dengan menurunkan suku bunga acuan dan memberi stimulus yang akomodatif dari kebijakan makroprudensial dan ekonomi keuangan syariah. Dan untuk mendorong agar dapat mencapai di atas 6% akan fokus pada sektor unggulan yang menjadi penopang pertumbuhan ekonomi seperti sektor riil, manufaktir, infrastruktur, dan pariwisata. Untuk saat ini sektor yang dinilai dapat menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam waktu dekat adalah industri tekstil dan produk tekstil (TPT), otomotif, dan pariwisata. 3) Para ekonom memprediksi defisit neraca dagang Indonesia akan melebar mencapai US$ 280 juta pada bulan Oktober seiring dengan semakin dalamnya penurunan ekspor dan impor (defisit di September US$ 163.9 juta). Melebarnya neraca dagang dipicu oleh memburuknya kondisi perdagangan global dan melemahnya pertumbuhan ekonomi dunia di tengah perselisihan dagang antara AS dan China. Secara keseluruhan dalam sepekan terakhir IHSG kembali melemah sebesar 0.80% atau 49.64 point, ditutup di level 6,128.35. Akumulasi minat jual asing dalam sepekan terakhir tercatatkan mewarnai pergerakan IHSG sebesar Rp.909.42 miliar diantaranya pada saham BBRI, ASII, TLKM, INKP, UNVR, EXCL, BBNI, GGRM, BMRI, SCMA. Dan dalam dua pekan sampai dengan empat pekan terakhir juga tercatatkan akumulasi minat jual asing masing masing sebesar Rp.3.48 triliun, Rp.5.20 triliun, dan Rp.4.87 triliun. Dalam sepekan terakhir nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tercatatkan melemah dari Rp.14.020 menjadi Rp.14.069.

Setelah target koreksi sementara di level 6,077.42 tercapai di pekan kemarin, IHSG masih berpeluang untuk melemah kembali menguji level 6,033.33 – 6,001.94 – 5,962 sebagai target koreksi selanjutnya selama masih bertahan di bawah level 6,148.74. Namun terbentuknya pola bullish harami di akhir pekan perdagangan kemarin walaupun kurang valid memberi peluang terjadinya penguatan sesaat di perdagangan awal pekan ini dan membentuk konsolidasi baru. Beberapa saham di LQ45 yang saat ini secara histori mendekati PE ratio terendah diantaranya ADRO, AKRA, ASII, BBNI, BBTN, BMRI, BSDE, ERAA, GGRM, HMSP, INDF, ITMG, JPFA, JSMR, LPPF, MEDC, MNCN, PGAS, PTBA, PTPP, PWON, SCMA, SRIL, UNTR, WIKA, dan WSKT. Berita ekonomi luar negeri di pekan ini US FOMC minutes. Sedangkan berita ekonomi domestik di pekan ini kebijakan tingkat bunga.