Weekly Strategy

Weekly Strategy

Monday , 08 Jul 2019 09:10

Support 6,257.33 & Target terdekat Sementara 6,420 

1) Seiring dengan terpangkasnya pertumbuhan ekonomi dunia di 2019 oleh Bank Dunia menjadi 2.6% dari perkiraan sebelumnya 2.9%, pertumbuhan ekonomi Indonesia 2019 juga diperkirakan lebih rendah menjadi sebesar 5.1% (perkiraan sebelumnya sebesar 5.2%) dan di 2020 sebesar 5.2%. Menurunnya perkiraan pertumbuhan ekonomi Indonesia karena dampak dari perang dagang AS – China yang belum sepenuhnya mereda yang menyebabkan menurunnya ekspor dan turunnya harga komoditas unggulan seperti CPO dan batu bara. Di sisi lain, bila pemerintah dapat memacu ekspor dan investasi, dapat berdampak pada menyempitnya defisit transaksi berjalan menjadi 2.5% dari GDP di 2019 dan sekitar 2.5% dari GDP di 2020. Bank Dunia juga memperkirakan inflasi 2019 sebesar 3%, lebih rendah dari perkiraan sebelumnya 3.5%. 2) Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Juni 2019 sebesar 0.55% mom atau 3.28% yoy, dan sepanjang Januari – Juni 2019 sebesar 2.05%. Inflasi Juni tercatatkan lebih rendah dibandingkan dengan bulan sebelumnya sebesar 0.68% mom atau 3.32% yoy. Faktor pendorong inflasi di bulan Juni berasal dari bahan makanan yang mengalami inflasi 1.63% dengan andil 0.38%. Daging ayam ras dan telur ayam ras masing-masing menyumbang andil inflasi 0,02%. Komoditas yang memberi andil besar antara lain cabai merah, ikan segar, aneka sayuran (tomat sayur dan cabai hijau). Sementara, komoditas seperti bawang putih mengalami deflasi (penurunan harga) sebesar 0.06%. Dari kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau

mengalami inflasi 0.59% dengan andil 0.1%. Komoditas yang menyebabkan kenaikan harga antara lain nasi, mie, dan rokok kretek filter. Dari kelompok sandang terjadi inflasi sebesar 0.81% dengan andil 0.05% dengan pendorong utamanya emas yang naik signifikan, dengan andil terhadap inflasi 0.02%. Kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar mengalami inflasi 0.17% dengan andil 0.04%. Sedangkan kelompok pengeluaran mengalami deflasi (penurunan harga) diantaranya transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0.14%. Berdasarkan komponennya, inflasi bulan Juni 2019 didorong oleh volatile price di mana inflasi sebesar 1.7% dengan andil 0.35%. Inflasi inti tercatat sebesar 0.38% dengan andil 0.22%. Sementara, administered price atau harga yang diatur

pemerintah mengalami deflasi 0.09% dengan andil 0.02%. 3) Seperti yang telah diperkirakan sebelumnya oleh para ekonom, Bank Indonesia (BI) mencatatkan peningkatan cadangan devisa bulan Juni sebesar US$ 3.5 miliar menjadi US$ 123.8 miliar. Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 7.1 bulan impor atau 6.8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor. Peningkatan tersebut dipengaruhi oleh: a) Adanya aliran dana asing yang masuk ke emerging market termasuk Indonesia di bulan Juni sebagai dampak dari sikap hawkish The Fed. b) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) yang menerbitkan dua Global Bond, yaitu: berdenominasi dollar AS dengan target indikatif US$ 750 juta dan berdenominasi euro dengan target indikatif 750 juta euro. c) Adanya intervensi yang dilakukan BI, dimana nilai tukar rupiah terjaga dikisaran Rp.14,226 (rata rata sepanjang Juni) dan ditutup di Rp. 14,141. Volatilitas sepanjang bulan Juni juga membesar di level 1.64%, lebih besar dari bulan May 1.16% dan April 1.05%. d) Meredanya sentimen negatif pembayaran hutang dan pembagian deviden yang telah dilakukan di bulan sebelumnya, April dan Mei.

Dalam sepekan terakhir IHSG berhasil menguat kembali sebesar 0.23% atau 14.85 point, ditutup di level 6,373.48. Akumulasi minat beli asing dalam sepekan terakhir tercatatkan mendukung penguatan IHSG sebesar Rp.936.91 miliar diantaranya pada saham BBRI, TLKM, BBNI, BBCA, ASII, UNVR, CTRA, SMGR, UNTR, & INDF. Akumulasi minat beli asing juga tercatatkan mendukung penguatan IHSG dalam dua pekan sampai dengan empat pekan terakhir masing masing sebesar Rp.10.83 triliun, Rp.12.21 triliun, dan Rp.11.98 triliun. Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS dalam sepekan terakhir relatif sideway dari Rp.14.141 menjadi Rp.14.148. Dalam sepekan kedepan IHSG masih akan berfluktuatif dengan support kuat di level 6,257.33 dan target sementara di level 6,420. Beberapa saham di LQ45 yang saat ini underprice dan secara histori mendekati PE ratio terendah diantaranya ADHI, ADRO, AKRA, ASII, CPIN, ELSA, ERAA, GGRM, HMSP, INDF, INKP, ITMG, KLBF, LPPF, MNCN, PGAS, PTBA, PTPP, SCMA, UNTR, WIKA, WSBP, dan WSKT. Berita ekonomi domestik di pekan ini diantaranya indeks kepercayaan konsumen Juni, penjualan retail May, penjualan mobil Juni, dan neraca perdagangan Juni.