Weekly Strategy

Weekly Strategy

Monday , 16 Sep 2019 09:10

Target Sementara 6,400.09 

1) Bank Indonesia (BI) mencatatkan Indeks Penjualan Riil (IPR) pada bulan Juli 2019 tumbuh sebesar 2.4% yoy menjadi 221.2 (di bulan yang sama 2018 sebesar 216). Peningkatan penjualan tertinggi terdapat pada penjualan eceran kelompok suku cadang dan aksesori yang tumbuh sebesar 23.5% yoy. Sedangkan di bulan Juni 2019 hanya tumbuh sebesar 20% yoy. Sementara dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau tumbuh sebesar 2.7% yoy. Di bulan Agustus, BI memperkirakan penjualan eceran hanya akan bertumbuh sebesar 3.7% yoy, lebih rendah dari periode yang sama di tahun 2018 yang mencapai 6.1% yoy. Perkiraan peningkatan penjualan pada bulan Agustus terjadi pada kelompok suku cadang dan aksesori yang diharapkan tumbuh sebesar 25.1% yoy. Sedangkan dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau hanya akan bertumbuh sebesar 3.8% yoy. Pada kelompok peralatan, informasi, dan komunikasi diharapkan akan berkinerja membaik di bulan Agustus yang didorong oleh faktor musiman diskon perayaan hari kemerdekaan, dimana di bulan sebelumnya tercatatkan menurun sebesar 5.2% yoy. 2) Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menyatakan terdapat 5 kendala yang menghambat masuknya investasi di Indonesia baik yang berasal dari asing maupun domestik, diantaranya: a) Mengenai regulasi di Indonesia, dimana saat ini dinilai masih tidak jelas dan kerap terjadi tumpang tindih bahkan sering berubah. Berbagai bentuk regulasi seperti persyaratan dan pendaftaran yang bertele tele menjadi izin yang menghambat industri. b) mengenai isu perpajakan, yang walaupun telah banyak perbaikan selama ini namun masih menyulitkan investor dari sisi pemberlakuan atau perlakuan di kantor pajak. c) Masih banyak terjadi sengketa lahan yang membuat kepastian investor dalam mendirikan usaha menjadi tidak menentu. d) Mengenai ketenagakerjaan, dimana diperlukan penyesuaian undang undang ketenagakerjaan yang lebih fleksibel, lebih modern, dan lebih mencerminkan realitas ketenagakerjaan. e) Adanya perlakuan yang berbeda antara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dengan swasta, dimana saat ini BUMN dinilai masih mendominasi sejumlah sektor. Dan untuk melancarkan laju investasi masuk ke Indonesia, pemerintah akan merevisi 72 undang undang yang dianggap telah menghambat laju investasi selama ini. Perombakan undang undang akan menggunakan skema omnibus law (suatu rancangan undang undang yang mencakup lebih dari satu aspek yang digabung menjadi satu undang-undang). Upaya menggenjot investasi langsung yang bersifat jangka panjang masuk ke Indonesia juga menjadi fokus utama pemerintah saat ini. Menteri Keuangan (MenKeu) menyatakan, untuk mendukung investasi, dari sisi fiskal pemerintah mengoptimalkan pengelolaan APBN dari sisi belanja yang efisien dan terarah seperti belanja infrastruktur yang masif dalam lima tahun terakhir. Pemerintah juga masih terus memberi stimulus investasi melalui insentif perpajakan baik secara umum, sektoral, maupun untuk kawasan tertentu. Kebijakan kuasi-fiskal juga dilakukan pemerintah dalam bentuk mendorong potensi sektor strategis di daerah diharapkan dapat direspon secara proaktif oleh masing-masing pemerintah daerah sehingga pertumbuhan ekonomi daerah semakin kuat dan peluang investasi semakin terbuka lebar.

Secara keseluruhan IHSG menguat dalam sepekan terakhir walaupun hanya sebesar 0.41% atau 25.89 point, ditutup di level 6,334.84. Namun akumulasi minat jual asing dalam sepekan terakhir masih tercatatkan mewarnai pergerakan IHSG sebesar Rp.909.93 miliar diantaranya pada saham TBIG, BMRI, MDKA, TOWR, BBNI, BBTN, GGRM, PGAS, UNTR, & INTP. Dan dalam dua pecan sampai dengan empat pekan terakhir juga masih tercatatkan akumulasi minat jual asing masing masing sebesar Rp.2.69 triliun, Rp.4.27 triliun, dan Rp.5.92 triliun. Dan dalam sepekan terakhir nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menguat dari Rp.14.140 menjadi Rp.13.950. Saat ini IHSG masih berpeluang untuk menguji target selanjutnya dikisaran level 6,400.09 selama masih bertahan di atas level 6,328.47 setelah target di level 6,372.71 tercapai di pekan kemarin. Beberapa saham di LQ45 yang saat ini secara histori mendekati PE ratio terendah diantaranya ADRO, AKRA, ASII, BBNI, BBTN, BMRI, CPIN, ERAA, GGRM, HMSP, INDF, ITMG, JPFA, JSMR, LPPF, MEDC, MNCN, PGAS, PTBA, PTPP, PWON, SCMA, SRIL, UNTR, WIKA, dan WSKT. Berita ekonomi luar negeri di pekan ini diantaranya kebijakan tingkat bunga the FED dan FOMC Economics projection. Sedangkan berita ekonomi domestik di pekan ini diantaranya neraca perdagangan Agustus, penjualan motor dan mobil Agustus, dan kebijakan tingkat bunga BI.