Neraca Pembayaran Surplus US$ 8,6 Miliar pada Kuartal IV-2023

Thursday , 22 Feb 2024 03:56

 Bank Indonesia mencatat Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) mengalami surplus US$ 8,6 miliar pada kuartal IV-2023 , meningkat signifikan dibandingkan dengan kinerja kuartal sebelumnya yang mencatat defisit US$  1,5 miliar. Surplus NPI tersebut ditopang oleh surplus transaksi modal dan finansial yang meningkat serta defisit transaksi berjalan yang tetap rendah.

 

"Kinerja NPI pada kuartal IV-2023 membaik sehingga menopang ketahanan eksternal Indonesia," ucap Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono dalam keterangan resmi yang diterima pada Kamis (22/2/2024).

 

Transaksi berjalan mencatat defisit rendah didukung oleh perbaikan permintaan dan harga komoditas global di tengah peningkatan ekonomi domestik. Transaksi berjalan mencatat defisit US$ 1,3 miliar (0,4% dari PDB), sedikit meningkat dibandingkan dengan defisit US$ 1,0 miliar (0,3% dari PDB) pada kuartal sebelumnya. Kinerja transaksi berjalan yang terjaga tersebut bersumber dari surplus neraca perdagangan barang yang meningkat, didukung oleh kenaikan ekspor barang sejalan dengan perbaikan permintaan global dan harga komoditas. Di sisi lain, impor barang juga meningkat sejalan dengan naiknya kebutuhan masyarakat pada periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan Tahun Baru. Selain itu, defisit neraca jasa dan neraca pendapatan primer juga tercatat lebih tinggi, sejalan dengan peningkatan aktivitas domestik dan pola pembayaran bunga pada periode laporan.

 

Dia mengatakan kinerja transaksi modal dan finansial meningkat sejalan dengan meredanya ketidakpastian pasar keuangan global. Transaksi modal dan finansial mencatat perbaikan signifikan, dari defisit US$ 0,1 miliar  pada kuartal III-2023 menjadi surplus US$ 9,8 miliar pada kuartal IV-2023. Kinerja positif ini terutama ditopang oleh aliran investasi portofolio yang kembali masuk ke pasar keuangan domestik sejalan dengan ketidakpastian pasar keuangan global yang mulai mereda. Investasi langsung tetap kuat dengan membukukan surplus yang relatif stabil sejalan dengan optimisme investor terhadap prospek ekonomi dan iklim investasi domestik yang terjaga.

 

"Transaksi investasi lainnya juga mencatat surplus didorong penarikan pinjaman luar negeri pemerintah dan swasta," kata Erwin.

 

Perkembangan NPI secara keseluruhan tahun 2023 menunjukkan ketahanan sektor eksternal yang tetap kuat di tengah masih tingginya ketidakpastian ekonomi global. NPI keseluruhan 2023 membukukan surplus sebesar US$  6,3 miliar , meningkat dari tahun sebelumnya yang mencatat surplus US$ 4 miliar, terutama didukung kuatnya kinerja transaksi modal dan finansial. Transaksi berjalan tahun 2023 mencatat defisit yang terkendali sebesar US$ 1,6 miliar  (0,1% dari PDB), setelah membukukan surplus sebesar US$ 13,2 miliar (1,0% dari PDB) pada tahun 2022.

 

Perkembangan ini dipengaruhi oleh penurunan surplus neraca perdagangan barang, seiring kondisi perlambatan ekonomi global dan penurunan harga komoditas, serta permintaan domestik yang kuat. Di sisi lain, defisit neraca jasa berkurang sejalan dengan kenaikan jumlah wisatawan mancanegara seiring pemulihan sektor pariwisata yang terus berlangsung. Transaksi modal dan finansial tahun 2023 mencatat perbaikan signifikan dengan membukukan surplus US$ 8,7 miliar , dibandingkan dengan defisit US$ 8,7 miliar  pada tahun 2022, ditopang oleh surplus investasi langsung dan investasi portofolio di tengah masih tingginya ketidakpastian pasar keuangan global.

 

Posisi cadangan devisa pada akhir Desember 2023 naik mencapai US$ 146,4 miliar dari US$ 137,2 miliar pada akhir Desember 2022.  Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 6,5 bulan impor dan utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

 

"Ke depan, BI  senantiasa mencermati dinamika perekonomian global yang dapat mempengaruhi prospek NPI dan terus memperkuat respons bauran kebijakan yang didukung sinergi kebijakan yang erat dengan pemerintah dan otoritas terkait guna memperkuat ketahanan sektor eksternal," tutur Erwin.

 

Sumber: Investor.id