Harga minyak melanjutkan penguatan setelah melonjak lebih dari 4%

Thursday , 22 Jul 2021 08:28



Harga minyak masih bertahan di atas level US$ 70 per barel setelah melonjak 4% pada perdagangan kemarin. Kamis (22/7) pukul 7.40 WIB, harga minyak WTI kontrak September 2021 di New York Mercantile Exchange berada di US$ 70,33 per barel, menguat tipis dari posisi kemarin pada US$ 70,30 per barel.

Sejalan, harga minyak brent kontrak September 2021 di ICE Futures pun menguat tipis ke US$ 72,26 per barel dari penutupan perdagangan kemarin pada US$ 72,23 per barel.

Kedua kontrak minyak kemarin kompak melonjak meski ada penambahan stok di Amerika Serikat (AS). Harga minyak WTI kemarin melonjak 4,61%. Sedangkan harga minyak brent melesat 4,15%.

Harga minyak naik lebih dari 4% pada hari Rabu, memperpanjang kenaikan dari sesi sebelumnya karena peningkatan selera risiko memberikan dukungan meskipun data menunjukkan kenaikan tak terduga dalam persediaan minyak AS.

Harga minyak berjangka rebound setelah turun sekitar 7% pada hari Senin, menyusul kesepakatan OPEC+ untuk meningkatkan pasokan sebesar 400.000 barel per hari dari Agustus hingga Desember.

Aksi jual diperparah oleh kekhawatiran bahwa peningkatan kasus varian Delta dari virus corona di pasar utama seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Jepang akan memengaruhi permintaan.

"Secara keseluruhan kesepakatan OPEC telah mengkristalkan apa yang diharapkan pasar mengenai pemulihan produksi," kata Andy Lipow, presiden Lipow Oil Associates kepada Reuters. "Namun, bahkan menurut angka OPEC+, itu tidak cukup untuk membendung penurunan persediaan minyak dunia secara keseluruhan, dan bagi saya, itu memberikan dukungan kepada pasar," ujar dia.

Kenaikan harga terjadi meskipun ada kenaikan stok minyak mentah AS untuk pertama kalinya sejak Mei. Data Energy Information Administration AS menunjukkan, persediaan minyak mentah naik secara tak terduga sebesar 2,1 juta barel pekan lalu menjadi 439,7 juta barel. Analis sebelumnya memperkirakan penurunan 4,5 juta barel.

Namun, persediaan bensin dan sulingan mencatat penurunan masing-masing 121.000 barel dan 1,3 juta barel. "Peningkatan minyak mentah itu jelas merupakan kejutan yang didorong oleh lonjakan impor dan penurunan ekspor," kata John Kilduff, mitra di Again Capital di New York. "Satu-satunya aspek positif dari laporan tersebut adalah permintaan bensin yang kuat dan rebound bahan bakar distilat."

Analis JPMorgan mengatakan permintaan global diperkirakan rata-rata 99,6 juta barel per hari (bph) pada Agustus, naik 5,4 mbd dari April.  

sumber : kontan.co.id