Harga minyak mentah melonjak 3% pada Senin (22/2)

Tuesday , 23 Feb 2021 08:02



Harga minyak naik lebih dari 3% pada hari Senin (22/2), didorong oleh perkiraan pemulihan yang lambat dari produksi minyak mentah Amerika Serikat (AS).

Produsen minyak AS menutup produksi minyak antara 2 juta hingga 4 juta barel per hari karena cuaca buruk di Texas dan negara bagian penghasil minyak lainnya.

Serta kondisi dingin yang tidak biasa mungkin telah merusak instalasi yang dapat membuat output offline lebih lama dari yang diharapkan.

Harga minyak mentah Brent naik US$ 2,04 atau 3,2% menjadi US$ 64,95 per barel dan minyak AS naik US$ 2,25 atau 3,8%, menjadi US$ 61,49 per barel.

Kontrak minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Maret berakhir pada hari Senin dan kontrak April yang lebih banyak diperdagangkan naik US$ 1,91 atau 3,2%, menjadi US$ 61,19 per barel.

Produsen minyak serpih di wilayah tersebut dapat membutuhkan setidaknya dua minggu untuk sepenuhnya memulai kembali produksi normal, kata sumber, karena penilaian kerusakan dan gangguan listrik memperlambat pemulihan mereka.

"Kehilangan yang signifikan dari produksi minyak mentah dan bensin menunjukkan lebih banyak kenaikan dan kemungkinan mencapai level tertinggi baru dalam kerangka waktu satu minggu," kata Jim Ritterbusch dari konsultan Ritterbusch and Associates.

Tetapi dengan kapasitas penyulingan yang terbatas, dan ekspektasi bahwa penyulingan, juga, bisa memakan waktu berminggu-minggu untuk kembali normal, harga minyak mungkin tersandung karena kurangnya permintaan, kata Bob Yawger, direktur energi berjangka di Mizuho di New York.

"Pasar berperilaku seolah-olah penyuling akan online lebih cepat daripada yang akan Anda percayai," kata Yawger.

Untuk pertama kalinya sejak November, perusahaan pengeboran AS memangkas jumlah rig minyak yang beroperasi karena cuaca dingin dan salju yang menyelimuti Texas, New Mexico, dan pusat penghasil energi lainnya, menandakan pasokan yang lebih ketat di masa depan.

Produsen minyak OPEC + akan bertemu pada 4 Maret, dengan sumber mengatakan kelompok tersebut kemungkinan akan mengurangi pembatasan pasokan setelah April mengingat pemulihan harga, meskipun setiap peningkatan produksi kemungkinan akan moderat mengingat ketidakpastian yang masih ada atas pandemi.

"Arab Saudi sangat ingin mengejar harga yang lebih tinggi untuk menutupi biaya impas sosial sekitar US$ 80 per barel. Sementara Rusia sangat fokus pada pengurangan pemotongan saat ini dan kembali ke produksi normal," kata kepala analis komoditas SEB Bjarne Schieldrop.

sumber : kontan.co.id