Laba Bersih PGAS Tergerus pada Semester I/2019

Tuesday , 20 Aug 2019 09:51

PT Perusahaan Gas Negara Tbk. membukukan penurunan laba bersih 69,87 persen  secara tahunan pada semester I/2019.

Berdasarkan laporan keuangan semester I/2019, emiten berkode saham PGAS itu membukukan pendapatan US$1,78 miliar pada semester I/2019. Realisasi itu turun 6,80 persen dari US$1,91 miliar periode yang sama tahun lalu.

Dari situ, perseroan mengantongi laba bersih US$54,04 juta. Pencapaian tersebut lebih rendah dari US$179,38 juta pada semester I/2018.

Daam siaran persnya, Manajemen PGAS menyebut pendapatan yang dikantongi setara dengan Rp25,4 triliun. Jumlah itu menggunakan asumsi kurs rata-rata semester I/2019 sebesar Rp14.195 per 1 dolar Amerika Serikat.

Sumber pendapatan yang dikantongi perseroan berasal dari penjualan gas US$1,33 miliar, penjualan minyak dan gas US$196,2 juta, transmisi gas US$164,3 juta, serta pendapatan usaha lainnya US$97,19 juta.

Perseroan melaporkan laba operasi US$252,03 juta pada semester I/2019. Akan tetapi, kinerja keuangan periode tersebut dibayangi beban non-cash di antaranya impairment dan selisih kurs. 

“Di tengah tantangan bisnis domestik dan global yang sangat dinamis, perseroan mampu meningkatkan pangsa pasar gas bumi melalui penambahan jumlah pelanggan dan perluasan infrastruktur sebagai sub-holding Gas.” ujar Sekretaris Perusahaan Perusahaan Gas Negara Rachmat Hutama, Selasa (20/8/2019).

Sepanjang semester I/2019, Rachmat mengungkapkan perseroan menyalurkan gas bumi sebanyak 2.938 Billion British Thermal Unit per Day (BBTUD). Secara detail, volume gas distribusi 932 BBTUD dan volume transmisi gas bumi 2.006 BBTUD.

Jumlah pelanggan yang dilayani perseroan lebih dari 350.000. Cakipan infrastruktur pipa gas bumi sepanjang lebih dari 10.000 kilometer (km) termasuk jaringan gas untuk melayani sektor rumah tangga sepanjang lebih dari 3.800 km.

Dia menyatakan PGN akan terus membangun dan memperluas infrastruktur gas bumi. Hal itu sejalan dengan tingginya kebutuhan energi di dalam negeri yang menjadi peluang bagi perseroan untuk mengoptimalkan penggunaan gas bumi di berbagai daerah.

“Kebutuhan energi di dalam negeri yang semakin besar menjadi tantangan bagi PGN untuk menyediakan gas bumi yang akan menciptakan multiplier effect luas bagi sektor industri dan ekonomi nasional. Infrastruktur akan tetap menjadi fokus PGN untuk mengalirkan gas bumi dari hulu hingga ke konsumen,” imbuhnya.

 

Sumber : BISNIS INDONESIA.COM