Macro Update

BI RATE (CENTRAL BANK BENCHMARK REFERENCE RATE)

RDG BI pada 14-15 Juni 2017 mempertahankan BI 7-day Reverse Repo Rate (BI 7-day RR Rate) tetap 4,75%. Keputusan tersebut konsisten dengan upaya BI menjaga stabilitas makroekonomi, serta mendukung keberlanjutan pemulihan ekonomi domestik. BI tetap mewaspadai sejumlah risiko seperti kenaikan Fed Fund rate, rencana penurunan neraca The Fed, hasil Pemilu di Inggris, serta potensi menurunnya harga komoditas khususnya minyak dunia.

 

CADANGAN DEVISA (FOREIGN EXCHANGE RESERVE)



Cadangan devisa Indonesia akhir Juni 2017 tercatat US$123,09 miliar, turun dari posisi Mei 2017 yang sebesar US$124,95 miliar. Cadangan devisa tersebut cukup untuk membiayai 8,9 bulan impor atau 8,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor. BI menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal dan menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan.

 

INFLASI (CONSUMER PRICE INDEX)

Inflasi Juni 2017 terkendali sehingga masih mendukung pencapaian sasaran inflasi 2017 sebesar 4,0%-5,0%. Inflasi Juni 2017 tercatat 0,69% (mom), lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata inflasi periode puasa dan lebaran tiga tahun terakhir sebesar 0,85% (mom). Perkembangan ini tidak terlepas dari kontribusi positif berbagai kebijakan yang ditempuh Pemerintah dan koordinasi yang kuat dengan BI dalam menghadapi lebaran. Inflasi volatile foods lebih rendah dari pola historis sementara itu inflasi kelompok administered prices tercatat cukup tinggi dipengaruhi penyesuaian tarif listrik tahap ketiga.

 

NERACA PERDAGANGAN (TRADE BALANCE)

Neraca perdagangan Indonesia kembali mencatat surplus pada Mei 2017, didukung oleh surplus neraca perdagangan nonmigas. Surplus Mei 2017 tercatat US$0,47 miliar, turun dibanding surplus April 2017 sebesar US$1,33 miliar. Surplus yang lebih rendah dipengaruhi oleh turunnya surplus neraca perdagangan nonmigas yang melebihi penurunan defisit neraca migas. Secara kumulatif Januari-Mei 2017, surplus neraca perdagangan tercatat US$5,90 miliar, lebih besar dibanding periode yang sama tahun 2016 yang sebesar US$3,02 miliar.

 

NERACA BERJALAN (CURRENT ACCOUNT)


Defisit neraca berjalan Indonesia pada 1Q 2017 menyempit menjadi $2,4 miliar (0,9% dari PDB) dari $4,7 miliar (2,1% PDB) pada kuartal yang sama tahun sebelumnya karena surplus barang naik menjadi $5,6 miliar dari $2,6 miliar tahun sebelumnya.

 

PENANAMAN MODAL ASING (FOREIGN DIRECT INVESTMENT)

FDI Indonesia pada Q1 2017 naik 0,9% yoy menjadi Rp97 triliun, namun turun dari 2,1% tahun sebelumnya dan menandai pertumbuhan terlemah setidaknya dalam lima tahun terakhir. FDI sebagian besar berasal dari sektor pertambangan, logam dasar dan properti dan Singapura merupakan sumber investasi terbesar. Dalam dolar, FDI setara dengan US$7,3 miliar. FDI rata-rata mencapai RP68,32 triliun dari tahun 2010 sampai 2017, mencapai titik tertinggi sepanjang masa Rp101,30 miliar pada Q4 2016 dan rekor terendah Rp35,40 miliar pada Q1 2010.

 

PERTUMBUHAN EKONOMI (GDP GROWTH)


Pertumbuhan ekonomi pada Q1 2017 tercatat sebesar 5,01% (yoy), membaik dibandingkan kuartal sebelumnya 4,94%. Pertumbuhan tersebut juga lebih tinggi bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2016 yang sebesar 4,92%. Pertumbuhan didorong oleh kinerja ekspor yang membaik, investasi yang meningkat, dan konsumsi yang tetap kuat. Perbaikan kinerja ekspor terutama dipengaruhi oleh membaiknya harga komoditas, seperti batubara dan minyak kelapa sawit, serta meningkatnya pertumbuhan ekonomi dunia.

 

Net Buy/Net Sell Investor Asing


Sejak awal Januari 2014 hingga awal Juli 2017 investor asing mencatat akumulasi pembelian bersih saham Indonesia sebesar Rp51,64 triliun. Jumlah ini menyusut sejak net buy asing mencapai puncaknya pada April 2017 yang sebesar Rp65,21 triliun. Awal Januari 2014 ditetapkan sebagai rujukan dimulainya euphoria pemerintahan Jokowi-JK karena sebelumnya investor asing melakukan penjualan saham Indonesia yang dipicu oleh tapering stimulus The Fed.