Daily Views

Bursa Hari Ini

Monday , 17 Jun 2019 09:08

Market Movement

IHSG pada perdagangan akhir pekan ditutup terkoreksi dalam rentang yang terbatas sebesar 0,4% berada di level 6.250,3 disebabkan maraknya aksi tekanan jual investor di hampir keseluruhan indeks sektoral yang dipimpin oleh laju koreksi saham-saham berbasis sektoral properti, aneka industri, industri dasar, konsumer, pertambangan, manufaktur dan infrastruktur. Hanya tercatat saham-saham berbasis sektoral perkebunan dan perdagangan yang berhasil ditutup menguat di perdagangan akhir pekan. Investor asing tercatat membukukan transaksi net sell tipis senilai Rp 64 miliar sedangkan nilai tukar Rupiah ditutup melemah ke level Rp 14.325,- per dolar AS. Sementara pada pagi hari ini, bursa Asia dibuka cenderung melemah tipis dimana indeks Nikkei dan KOSPI masing masing dibuka turun 0,2% dan 0,03% menanti hasil keputusan pertemuan FOMC The Fed pekan ini dan pertemuan G20 di Jepang pada akhir bulan ini. Sentimen wait & see ini kami perkirakan akan mendorong perdagangan IHSG berada dalam rentang yang tipis dan bervariasi awal pekan ini dengan kisaran antara 6.200 – 6.285.

Global Update

Bursa AS dan Eropa pada perdagangan akhir pekan ditutup melemah terbatas dikontribusikan dari sikap wait & see investor jelang pertemuan FOMC The Fed pekan ini dimana investor berkekspektasi The Fed akan melakukan pemangkasan FFR sebanyak 3 kali di tahun ini. Koreksi yang terjadi pada saham-saham berbasis teknologi terutama produsen chip pasca adanya pernyataan dari Broadcom atas melemahnya permintaan global imbas dari memanasnya tensi perang dagang AS-Tiongkok turut mengkontribusi koreksi yang terjadi di bursa AS dan Eropa. Indeks Dow Jones dan Nasdaq masing-masing ditutup turun sebesar 0,1% dan 0,5% berada pada level 26.089,6 dan level 7.796,7. Indeks FTSE 100 dan DJ Euro Stoxx juga ditutup melemah sebesar 0,3% masing-masing berada pada level 7.345,8 dan level 3.379,2. Sementara itu, imbas dari tingginya tensi perang dagang AS-Tiongkok dan sikap wait&see investor terhadap kebijakan The Fed mendorong harga minyak dunia ditutup dkisaran level US$ 52,5 per barel (+0,4%). 

News Highlights                               

Ø  Penjualan KLBF Naik 10-20%

Ø  PTPP Garap Smelter di SUlteng

Ø  INDF Siapkan Capex Rp7 T

Ø  ABMM Efisiensi Opex 15%

Ø  Pendapatan URBN Melonjak 195,49%

Ø  MYOR Bidik Laba Bersih Rp1,9 Triliun

Ø  Penjualan Emas UNTR 1Q19 Capai Rp1,9 T

Ø  BKSW terbitkan obligasi Rp 200 miliar

Ø  SRIL targetkan kenaikan penjualan 15%

Ø  PBSA bagikan dividen Rp 13 per saham

Pabrik Caprolactam Beroperasi 2022 

Berita Emiten

Monday , 17 Jun 2019 09:11

Penjualan KLBF Naik 10-20%

Peningkatan daya beli masyarakat selama Ramadhan dan Lebaran tahun ini menggenjot penjualan KLBF sebesar 10-20% dibandingkan rata-rata penjualan bulanan, terutama di segmen produk makanan dan minuman kesehatan (consumer health). Dengan demikian, perseroan optimis penjualan di 1H19 tumbuh 7-8% YoY.

PTPP Garap Smelter di SUlteng

PTPP menjadi kontraktor pembangunan smelter feronikel yang berlokasi di Kecamatan Wolo, Kab. Kolaka, Sulawesi Tenggara dengan total nilai investasi Rp18,5 triliun. Perseoroan telah menandantangani kontrak pembangunan pabrik smelter tersebut dengan PT Ceria Nugraha Indotama (CNI) selaku investor pada April 2019, sementara groundbreaking telah dilaksanakan pada Sabtu (15/6) lalu. Pabrik berkapasitas 4x72 MVA tersebut ditargetkan beroperasi pada 2021, dan diproyeksikan dapat memproduksi 229.000 ton feronikel/ tahun dengan kadar 22-24%.

INDF Siapkan Capex Rp7 T

Tahun ini, INDF menyiapkan capex Rp7 triliun, yang akan dialokasikan antaralain untuk 1) ICBP sebesar Rp3,9 triliun, 2) Bogasari Rp1,4 triliun, 3) Divisi Agribisnis (LSIP dan SIMP) Rp1,5 triliun dan 4) Divisi logistic Rp200 miliar. Salah satu ekspansi yang dilakukan tahun ini antaralain penambahan kapasitas pabrik salahs atunya pabrik tepung terigu di Tanjung Proiok berkapasitas 1.200 ton/hari.

ABMM Efisiensi Opex 15%

ABMM berencana menurunkan biaya operasional sebesar 15% pada tahun ini di tengah tren penurunan harga batubara sejak 3Q18 lalu. Dari sisi produksi, perseroan memperkirakan bisa memproduksi 6 juta ton batu bara pada 1H19, dari target 12,5 juta ton pada tahun ini, dengan target overburden removal sebanyak 180 juta bcm.

Pendapatan URBN Melonjak 195,49%

URBN mencetak pendapatan sebesar Rp117,9 miliar pada 1Q19, melonjak 195,49% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp39,9 miliar dipicu penjualan apartemen. 

MYOR Bidik Laba Bersih Rp1,9 Triliun

MYOR memproyeksikan pertumbuhan laba bersih sepanjang tahun ini sekitar 9,7% menjadi Rp1,930 triliun dari realisasi tahun sebelumnya Rp1,760 triliun.

Penjualan Emas UNTR 1Q19 Capai Rp1,9 T

Hingga Maret 2019, untr sudah mengantongi pendapatan bersih dari penjualan emas sebesar 97.000 oz dengan nilai Rp 1,9 triliun. Dari sisi produksi, hingga 4M19 perseroan telah memproduksi sebanyak 124.000 oz, dari target tahun ini 350.000 oz.

BKSW terbitkan obligasi Rp 200 miliar

BKSW akan menerbitkan obligasi senilai Rp 200 miliar pd atahun ini yang merupakana bagian dari PUB obligasi I dengan target dana senilai total Rp 1 triliun. Dana yang diperoleh akan digunakan perseroan untuk mendukung ekspansi kredit. Penjamin emisi obligasi ini adalah PT Indo Premier Sekuritas.

SRIL targetkan kenaikan penjualan 15%

SRIL menargetkan kenaikan penjualan tahun ini sebesar 15% YoY mencapai senilai US$ 1,18 miliar dari penjualan tahun 2018 senilai US$ 1,03 miliar. Laba bersih perseroan ditargetkan tumbuh sebesar 5% YoY mencapai senilai US$ 88,1 juta dari laba bersih 2018 US$ 84 juta.

PBSA bagikan dividen Rp 13 per saham

PBSA akan membagikan dividen tahun buku 2018 sebesar Rp 13 per saham senilai total Rp 19,5 miliar yang merefleksikan raio pembayaran 46% dari total laba bersih 2018.