Daily Views

Bursa Hari Ini

Friday , 02 Dec 2022 08:41

IHSG turun cukup dalam di sesi perdagangan Kamis (1/12), dengan menutup sesi di level 7.020,8, atau turun -0,85%. Pelemahan IHSG diiringi oleh net sell investor asing total Rp 1,12 triliun di seluruh pasar. Badan Pusat Statistik (BPS) merilis angka inflasi per November 2022, melandai ke 5,42% YoY (vs Oktober di 5,71% YoY). Investor menunggu rilis angka pengangguran AS per November 2022. Rilis data ekonomi tersebut akan menjadi salah satu data masukkan untuk Fed, sebelum memutuskan kebijakan moneter selanjutnya pada 13-14 Desember 2022. Pergerakan IHSG pada akhir pekan masih akan cenderung bergerak sideways. Fluktuasi nilai tukar rupiah masih akan membayangi pergerakan IHSG. IHSG berpeluang bergerak dikisaran 7.012-7.108.

Bursa ekuitas Wall Street berakhir variatif, seiring investor menyambut petunjuk Chairman Federal Reserve Jerome Powell tentang kenaikan suku bunga yang lebih kecil, serta keputusan China untuk melunakkan sikapnya pada pembatasan Covid-19 yang ketat. Indeks berbasis luas S&P 500 ditutup melemah -0,09% menjadi 4.076,57. Nasdaq Composite Index menguat +0,13% menjadi 11.482,45, terangkat kenaikan Nvidia dan Meta Platforms, masing-masing lebih dari satu persen. Sedangkan Dow Jones Industrial Average turun -0,56% menjadi 34.395,01, terbebani kejatuhan saham Salesforce. Dari data, Indeks harga personal consumption expenditures (PCE) naik 0,3%, sama seperti September, dan selama 12 bulan hingga Oktober indeks tersebut meningkat 6,0%, setelah tumbuh 6,3% pada bulan sebelumnya. Sementara, Laporan Departemen Tenaga Kerja Amerika, Kamis, menunjukkan klaim awal untuk tunjangan pengangguran turun 16.000 menjadi 225.000, yang disesuaikan secara musiman untuk pekan yang berakhir hingga 26 November. Dari Eropa, Indeks pan-Eropa Stoxx 600 naik +0,89% menjadi 443,96. Sementara, bursa regional utama berakhir variatif. Di Jerman, Indeks DAX meningkat +0,65% menjadi 14.490,30, dan CAC Prancis bertambah +0,23% menjadi 6.753,97, sedangkan FTSE 100 Inggris turun -0,19% menjadi 7.558,49. Dari data, PMI manufaktur akhir S&P Global (indeks manajer pembelian) untuk zona euro naik menjadi 47,1 pada November, dari 46,4 pada Oktober, sedikit di bawah konsensus 47,3. Pasar global juga telah didukung dalam beberapa hari terakhir oleh China yang sedikit melonggarkan tindakan penguncian Covid-19

Berita Emiten

Friday , 02 Dec 2022 08:44

MEDC Laba Bersihnya Melesat +614%YoY

MEDC membukukan pendapatan senilai US$ 1,8 miliar hingga 9M22, naik +89%YoY. Pendapatan yang diraih perseroan terbagi atas pendapatan dari kontrak pelanggan US$ 1,77 miliar, dan pendapatan keuangan US$ 31,17 juta, yang masing-masing naik +91,72%YoY, dan +6,41%YoY. MEDC juga mencatatkan EBITDA sebesar US$ 1,23 miliar. Sementara laba bersih MEDC melesat +614%YoY, menjadi US$ 400,92 juta. Meningkatnya kinerja MEDC ditopang oleh menguatnya harga komoditas, serta naiknya volume produksi minyak, gas, dan tembaga perseroan.

Konektivitas Satelit Jadikan Layanan MTEL Terlengkap

MTEL menandatangani perjanjian kerjasama untuk layanan akses satelit (satelit backhaul) dengan PT Telkom Satelit Indonesia (Telkomsat). MTEL bekerja sama dengan Telkomsat, yang dapat mengoperasikan, memelihara, dan mengendalikan sistem komunikasi satelit di Indonesia, serta memiliki stasiun bumi yang tersebar di seluruh ibukota daerah tingkat II di Indonesia. Konektivitas satelit ini melengkapi portofolio MTEL. Konektivitas satelit akan memberikan solusi bagi operator telekomunikasi, untuk memperluas jangkauan layanan di wilayah yang belum terjangkau serat optik dan terkendala kondisi geografis.

Laba Bersih INDF Merosot -14,07%YoY di 9M22

INDF mencatatkan kinerja yang kurang memuaskan selama 9M22. INDF membukukan penurunan laba bersih -14,07%YoY, menjadi Rp 4,64 triliun. Namun, penjualan INDF tercatat naik terbatas sebesar +11,01%YoY, menjadi Rp 80,82 triliun. Penjualan INDF tekanan oleh kenaikan COGS +14% secara tahunan, imbas dari kenaikan harga bahan baku. Selain itu, INDF mengalami kenaikan beban keuangan +167,98%YoY, menjadi Rp 5,44 triliun, seiring dengan kenaikan suku bunga yang agresif.

Harga Batubara Melonjak, Kinerja TOBA Memuaskan Hingga Kuartal III

Tren kenaikan harga batu bara mendongkrak kinerja TOBA hingga kuartal III 2022. Pendapatan konsolidasi TOBA, naik +63,57% YoY, menjadi US$ 469,13 juta di Januari-September 2022. Faktor utama kenaikan pendapatan konsolidasi, ditopang oleh kenaikan harga batubara perusahaan +83%YoY pada Januari-September 2022, mencapai US$ 106,4 per metrik ton. Sejalan dengan kenaikan pendapatan, beban pokok pendapatan TOBA naik +47,75% YoY menjadi US$ 360,16 juta. Sementara itu laba bersih TOBA sebesar US$ 54,75 juta, naik +60,23%YoY.

Sumber: Bisnis Indonesia, Investor Daily, Kontan, Detik Finance